Selasa, 24 Mei 2011

Kelinci Sebagai Sumber Daging


Kelinci merupakan salah satu ternak yang mempunyai potensi besar untuk dikembang biakan sebagai penyedia daging, arena ternak ini mempunyai kemampuan pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, kemampuan untuk emanfaatkan hijauan dan limbah pertanian maupun industri pangan, dapat dipelihara dengan skala pemeliharaan yang kecil maupun besar, sehingga diharapkan dalam waktu singkat dapat menyediakan daging untuk memenuh kebutuhan protein hewani penduduk Indonesia yang setiap tahunnya meningkat. 

Pemerintah telah berusaha untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi protein hewani dengan meningkatkan produksi peternakan melalui peningkatan produktifitas ternak ruminansia diantaranya ternak sapi, kerbau, domba, kambing, dan ternak non ruminansia babi dan unggas, namun penyediaan daging hanya dari ternak ini tampaknya kurang optimistik, karena ternak ruminansia lambat tingkat reproduksinya, sedangkan ternak unggas dan babi meskipun mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang cepat, tetapi membutuhkan pakan yang mahal dan berkompetensi dengan manusia. Oleh karena itu diperlukan ternak lain yang mempunyai potensi biologis yang tinggi dan ekonomis sebagai penghasil daging.

Banyak keunggulan yang diperoleh dari mengkonsumsi daging kelinci, yaitu kandungan protein yang tinggi dan rendah kolesterol, sehingga daging kelinci dapat dipromosikan sebagai daging sehat, selain itu kulit dan kotorannya masih mempunyai nilai ekonomis, khususnya kulit bulu (fur) dari ternak kelinci Rex dan Satin mempunyai nilai komersiil yang tinggi sebagai bahan garmen yang dapat menggantikan fur dari binatang buas yang semakin langka. Penampilan ternak kelinci yang jinak dan lucu menjadikan ternak ini sebagai hewan kesayangan bagi penyayang binatang, disamping itu kemajuan industry farmasi yang pesat sangat membutuhkan ternak ini sebagai kelinci percobaan.

Pengembangan ternak kelinci sebagai penyedia daging sampai saat ini masih menemui banyak kendala karena daging dari ternak ini belum populer dan diterima oleh sebagian masyarakat sehingga sulit dalam pemasarannya. Kesulitan pemasaran lebih banyak disebabkan oleh faktor kebiasaan makan (food habit) dan efek psikologis yang menganggap bahwa kelinci sebagai hewan hias atau kesayangan yang tidak layak untuk dikonsumsi dagingnya. Merubah factor kebiasaan makan adalah hal yang sulit, karena manusia biasanya memiliki ikatan batin, loyalitas dan sensitifitas terhadap kebiasaan makannya meskipun hal ini dapat ditembus, namun memerlukan jangka waktu yang lama. 

Perubahan kebiasaan makan dapat terjadi melalui dua cara, yaitu melalui perubahan lingkungan dan perubahan pada makanan itu sendiri yang akan sampai pada suatu keputusan untuk menerima atau menolak suatu makanan. Perubahan lingkungan mencakup hal yang kompleks, yaitu sosial, ekonomi dan ekologis yang mengarah kepada perubahan kebudayaan dan keadaan sosial, sehingga perubahan penyajian merupakan langkah yang lebih cepat dalam mensosialisasikan daging kelinci. Hal ini terbukti masyarakat sudah mulai menerima daging kelinci dalam bentuk olahan sate dan gule, oleh karena itu aplikasi teknologi pengolahan daging merupakan langkah yang tepat untuk mensosialisasi dan mempopulerkan daging kelinci dimasyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan perkembangan ternak kelinci.

Pemeliharaan kelinci di Indonesia umumnya masih dalam skala kecil yang menyebabkan sulitnya untuk membuat suatu industri pengolahan yang menggunakan bahan baku dari kelinci, khususnya dalam penyediaan daging dan kulit sulit diperoleh, karena pada umumnya kelinci dijual sebagai hewan hias yang dijual pada umur 3 sampai 6 minggu yang masih rentan penyakit, disamping itu perkawinan yang tidak terprogram dengan bibit kurang bermutu menyebabkan tingginya tingkat mortalitas dan sulitnya mendapatkan kelinci yang seragam. Pasar domestik daging kelinci saat ini belum terbuka hanya terbatas kepada penjual sate dan gule di beberapa daerah tertentu seperti Lembang, Tawangmangu dan Sarangan.

Hal ini banyak disebabkan oleh factor psikologis yang menganggap bahwa kelinci tidak layak untuk dikonsumsi, tidak seperti halnya daging dari ternak unggas, kambing, domba, sapi, kerbau dan babi, padahal banyak keunggulan yang dapat diperoleh dari daging kelinci.terutama bagi mereka yang mempunyai masalah dalam kandungan kolesterol daging. Kurang populernya daging kelinci menyebabkan rendahnya tingkat pemotongan yang pada akhirnya berpengaruh pula terhadap ketersediaan kulit kelinci, sehingga penyediaan kulit kelinci dalam jumlah besar dan kontinuitasnya sulit dipenuhi untuk permintaan ekspor dan industri dalam negri yang menggunakan bahan baku kulit.
(Dari berbagai sumber, 2011)

1 komentar:

  1. daging kelinci memang enak, lebih enak dari daging ayam broiler, sepakat dan setuju mari kita kembangkan daging murah namun bergizi untuk peningkatan kualitas SDM melalui asupan protein hewani dari daging kelinci. Mantabbb

    BalasHapus